Juni 20, 2007

Kategori Bioteknologi
RNAi vs H5N1
Oleh Hosea Saputro Handoyo
Mahasiswa Life Sciences Hogeschool van Arnhem en Nijmegen, Belanda

RNAi merupakan singkatan dari RNA Interference atau dikenal juga sebagai post transcriptional gene silencing dan transgene silencing. RNAi merupakan mekanisme alam di dalam sel untuk mengatur dan menghentikan ekspresi gen (melalui proteinnya) secara spesifik. RNAi baru dikembangkan untuk keperluan klinis sejak 1998 walaupun sudah mulai ditemukan dari tahun 1990 dalam penelitian tumbuhan petunia hasil kerjasama Amerika-Belanda (Napoli et al. and Stuitje et al., 1990).

Perkembangannya ke dunia medis cukup berkembang mengingat banyak penyakit disebabkan oleh aktivitas spesific gen yang “liar”. Aktivitas gen-gen yang liar itu bisa disebabkan oleh mutasi ataupun infeksi virus seperti kanker (PTEN), HIV, hingga flu. Melalui RNAi, gen-gen tersebut dapat dengan relatif mudah dikendalikan walaupun tidak sepenuhnya 100% berhasil mengingat kondisi sel tiap-tiap orang berbeda-beda.

Pada dasarnya, RNAi di alam menstimulasi sel untuk menhancurkan RNA dari gen asing/termutasi dengan diawali oleh induksi RNA untai ganda kecil (RNA double stranded – dsRNA) yang dihasilkan sel itu sendiri. Di dalam praktek terapi, RNAi diinduksi oleh dsRNA sintesis yang disebut ‘small interfering RNA’ (siRNA). Kehadiran siRNA ini akan mengikat RNA asli membuat enzim Ribozyme, penghancur RNA asing, menghancurkan RNA asli yang seharusnya “diterjemahkan” menjadi protein. Sifatnya yang spesifik membuat terapi RNAi tergolong aman untuk diterapkan. Melalui RNAi pula, resistensi virus terhadap obat-obatan dapat dihambat. Sayangnya, terapi ini masih sangat tergolong mahal.

Novartis dan Alnylam, dua perusahaan farmasi besar di dunia, pada tanggal 27 Februari 2006 mengumumkan bahwa mereka akan mengembangkan terapi RNAi untuk pandemik flu seperti flu burung yang sedang merebak akhir-akhir ini. RNAi diterapkan pada untaian RNA dari gen yang disusupi oleh DNA virus. Novartis dan Alnylam keduanya tampak optimis mampu membuat siRNA dari setiap macam jenis virus yang menyebabkan flu burung khususnya H5N1. Diharapkan melalui terapi ini, pandemic flu burung dapat ditekan

Juni 20, 2007

Kategori Kimia Lingkungan
TAML si Pemakan Limbah
Oleh Hosea Saputro Handoyo
Mahasiswa Life Sciences Hogeschool van Arnhem en Nijmegen, Belanda

Sudah berapa banyak sungai-sungai di Indonesia yang tercemar limbah industri, rumah tangga, ataupun pertanian? Di Jawa Barat saja, hampir semua sungai yang mengalir sudah tidak jernih lagi airnya alias tercemar. Biodegradable detergents pun bila digunakan secara berlebihan akan tetap merusak lingkungan karena ekosistem yang ada lepas tangan. Para pakar kesehatan meyakini bahwa air yang sudah melalui proses penjernihan pun tetap memiliki kandungan polutan yang infinitesimal dalam part per million (ppm) hinggai (ppt). Walaupun sangat sedikit, kandungan polutan yang ada tetap dapat merusak proses metabolisme tubuh yang berujung pada tingkat intelektual, imunitas, reproduksi, hingga tingkat molekular genetika.

Kita boleh sedikit bersyukur bahwa perkembangan dunia kimia lingkungan yang disebut ‘green chemistry’ sudah berkembang cukup pesat. Dalam beberapa dekade terakhir misalny, Green Chemistry Institute of the American Chemical Society terus mendukung proyek-proyek yang peduli lingkungan. Salah satu proyek yang cukup berhasil adalah Carnegie Mellon University’s for Green Oxidation Chemistry. Mereka berhasil mengembangkan katalis yang bekerja seperti enzim, katalis tersebut dinamakan tetra-amido-macrocyclic ligand activators (TAML).

TAML yang bekerja bersama hidrogen peroksida (H2O2) mampu meniru kerja enzim tubuh manusia untuk mengurai toksin yang berbahaya seperti pestisida, pewarna tekstil, dan detergen. TAML juga mampu menurunkan tingkat polusi bau, menjernihkan air, hingga bersifat disinfektan dengan membunuh bakteri setingkat anthrax.

Saat TAML larut dalam air, hidrogen peroksida mengaktifkan TAML dengan menggantikan ligan H2O dengan H2O2 pada gugus TAML. Kemudian, H2O2 yang tidak stabil terurai kembali menjadi H2O menyisakan atom oksigen. Oksigen ini saling tolak menolak dengan atom besi (Fe) yang terdapat pada pusat gugus TAML. Interaksi inilah yang membuat TAML aktif dan mampu bekerja sebagaimana enzim ataupun scavenger radikal bebas yang dalam hal ini polutan. (Untuk detailnya dapat dilihat pada www.cmu.edu/greenchemistry)

TAML diyakini dapat merevolusi penggunaan klorin sebagai anti-polutan yang sudah banyak digunakan masyarakat dan dunia industri. Pada tingkat laboratorium, TAML dianggap cukup menjanjikan, tetapi pada tingkat industri lain lagi permasalahannya. TAML masih harus diuji coba kembali untuk mengobservasi efeknya pada lingkungan bila digunakan dalam jumlah yang tidak sedikit. Jangan sampai TAML justru menjadi polutan baru yang tidak teratasi lagi. Tingkat aktivasi TAML yang cukup tinggi juga ditakuti dapat merusak ekosistem yang ada sebab bakteri setingkat anthrax (Bacillus atropheus) mampu dibunuh TAML dalam 15 menit. Selain itu, biaya adalah salah satu hal yang perlu dipertimbangkan, baik biaya sintesis TAML hingga proses revolusi industri pun dapat menarik reaksi keras dari kalangan industri. Mengganti suatu aplikasi kimia pada industri tidak mudah dan murah.

Aplikasi Green Chemistry ini pun masih menyisakan suatu permasalahan tersendiri. Masyarakat yang tidak pikir panjang dengan mudah asal buang limbah dengan angan bahwa TAML dapat mengatasinya. Beberapa kalangan berikhtiar bahwa TAML dapat menjernihkan air yang tercemar dan setelah itu masyarakat dunia harus dapat berkomitmen untuk lebih cinta lingkungan. Namun, dapatkah itu terjadi?

Juni 20, 2007

Kategori Tabel Periodik
Litium
Oleh Yulianto Mohsin

Sejarah
(Yunani, lithos, batu). Ditemukan oleh Arfvedson pada tahun 1817, litium merupakan unsur logam teringan, dengan berat jenis sekitar setengahnya air.

Sumber
Litium tidak ditemukan sebagai unsur tersendiri di alam; ia selalu terkombinasi dalam unit-unit kecil pada batu-batuan berapi dan pada sumber-sumber mata air. Mineral-mineral yang mengandung litium contohnya: lepidolite, spodumeme, petalite, dan amblygonite.

Di Amerika Serikat, litium diambil dari air asin di danau Searles Lake, di negara bagian California dan Nevada. Deposit quadramene dalam jumlah besar ditemukan di California Utara. Logam ini diproduksi secara elektrolisis dari fusi klorida. Secara fisik, litium tampak keperak-perakan, mirip natrium (Na) dan kalium (K), anggota seri logam alkali. Litium bereaksi dengan air, tetapi tidak seperti natrium. Litium memberikan nuansa warna pelangi yang indah jika terjilat lidah api, tetapi ketika logam ini terbakar benar-benar, lidah apinya berubah menjadi putih.

Kegunaan
Sejak Perang Dunia II, produksi logam litium dan senyawa-senyawanya menjadi berkali lipat. Karena logam ini memiliki spesifikasi panas yang tertinggi di antara benda-benda padat, seringkali digunakan pada aplikasi transfer panas. Tetapi perlu diingat bahwa logam ini sangat mudah aus atau korosif dan perlu penanganan tertentu. Litium digunakan sebagai bahan campuran logam, sintesis senyawa organik dan aplikasi nuklir. Unsur ini juga digunakan sebagai bahan anoda pada baterai karena memiliki potensial elektrokimia yang tinggi. Elemen litium digunakan pula untuk pembuatan kaca dan keramik spesial. Kaca pada teleskop di gunung Palomar mengandung litium. Bersama dengan litium bromida, keduanya digunakan pada sistem pendingin dan penghangat ruangan. Lithium stearat digunakan untuk sebagai lubrikasi suhu tinggi. Senyawa-senyawa litium lainnya digunakan pada sel-sel kering dan baterai.

Juni 20, 2007

Klorofil sebagai Darah Hijau Manusia
Oleh Sinly Evan Putra dan Saiful Bahri
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung

Mungkin banyak diantara kita yang tidak menyadari arti penting mengkonsumsi sayur-sayuran. Dan betapa menariknya jika kita tahu bahwa di dalam sayur-sayuran terdapat senyawa kimia klorofil atau dikenal sebagai zat hijau daun yang baik bagi kesehatan manusia. Didalam ilmu biologi, klorofil umumnya digunakan oleh tumbuh-tumbuhan untuk melakukan fotosintesis yaitu proses menyerap dan menggunakan energi sinar matahari untuk mensintesis oksigen dan karbohidrat dari CO2 dan air.

Juni 20, 2007

1. ‘Sangat’ Melek Teknologi

Tanggal 15 januari 2007, Menkominfo Sofyan Djalil menyatakan bahwa pemerintah akan mengalami kesulitan dengan software open-source. Alasan yang diajukan adalah bahwa (1) komputer pemerintah perlu di-upgrade sebelum migrasi ke open-source; (2)sumber daya manusia belum memadai; dan (3) dukungan driver untuk hardware masih lemah.

Khusus untuk (3), beliau menyatakan “Pada sebagian Open Source, misalnya, belum ada menu untuk men-support printer.”

[sumber berita]

Seandainya Bapak itu melihat bahwa semua driver modem, VGA, dan printer saya telah berhasil dikenali oleh kernel 2.6. Seandainya bapak itu melihat saya meminjam scanner teman saya, dan menjalankannya di Mepis Linux, semata karena driver scanner tersebut tertinggal di luar kota. Seandainya bapak itu tahu…

Seandainya bapak itu tahu… bahwa perpustakaan jurusan saya memanfaatkan Vector Linux pada komputer kuno kelas Pentium I dan II… (


2. Gampang Tersinggung

Masih menteri yang sama; pada bulan Maret 2007 beliau menyatakan ketersinggungan atas acara parodi “Republik Mimpi”. Peristiwa ini kemudian berlanjut hingga munculnya ancaman somasi terhadap acara tersebut.

“Pendidikan politik seperti itu tidak benar, tapi saya tidak bisa melarang. Saya kan mempelajari, jika memungkinkan, kita akan melayangkan somasi,” kata Menkominfo Sofyan Djalil.

Sebagai perbandingan, mantan presiden Gus Dur dan Megawati juga turut diparodikan dalam acara tersebut — meskipun demikian, mereka merasa tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Pada akhirnya, somasi itu tidak jadi dilayangkan.

[sumber berita di detikNews]

[sumber berita di perspektif.net]

Untuk ini, no comment lah.


3. Mengabaikan Bawahan

Menanggapi kasus adanya intimidasi terhadap guru-guru yang membeberkan kecurangan selama UAN, Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan bahwa Departemen Pendidikan Nasional tidak akan memberikan perlindungan khusus.

“Perlindungan hukum adalah tugas kepolisian. Depdiknas tidak akan memberikan hal itu,” kata Bambang Sudibyo di Padang, bulan Juni 2007.

[sumber berita]

Ckckckckckck… mau dikemanakan bangsa ini?

Memang benar bahwa perlindungan hukum adalah tugas kepolisian. Tapi, menyangkut keselamatan bawahan, harusnya Mendiknas bisa melakukan koordinasi dan kontak untuk itu kan?

Bahkan dalam perang sekalipun, pemimpin yang baik adalah yang maju paling depan ketika menyerang — dan pergi paling akhir ketika harus mundur. Bawahan itu bukanlah mereka yang tinggal disuruh maju dan gugur sendiri… badan yang besar itu dibangun dari sejumlah orang kecil dan bawahan.

Tapi, ini?? ?


4. Melupakan Pahlawan Negeri Sendiri

Pecatur muda Masruri meraih empat medali di kejuaraan catur ASEAN di Ancol, dan apa yang terjadi?

Ia pulang dari lokasi pertandingan dengan berjalan kaki. Padahal ia baru saja menjadi pahlawan bangsa pada turnamen skala regional tersebut.

Tentang ini, Menpora Adhyaksa Dault sendiri mengucapkan kata-kata yang, sayangnya, dapat dipahami sebagai apatisme: “Kita ini punya ratusan orang seperti Masruri,” dan melanjutkan bahwa “tak semua masalah dilimpahkan ke Departemen Pemuda dan Olahraga” (kutipan dari Liputan6).

[sumber berita]

Tampaknya kita kekurangan sikap menghargai para pahlawan bangsa di bidang olahraga. Paling tidak, para pengantar pahlawan bangsa itu bisa mencarter taksi (atau angkot), kan?


5. Mengisolir Kampus demi Kunjungan Mendadak

Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan kunjungan mendadak ke kampus ITB di jalan Ganesa 10, Bandung, pada hari Sabtu 7 April 2007. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, kampus disegel oleh aparat sejak pukul tujuh pagi, dan baru dibuka kembali sekitar pukul empat sore.

Mahasiswa yang sedianya beraktivitas tidak diperbolehkan memasuki kampus tanpa meninggalkan kartu identitas. Kegiatan bedah buku yang dijadwalkan dalam kampus tergusur ke Gedung Sabuga; dan sebuah Ujian Tengah Semester terpaksa dilakukan sambil lesehan di selasar Masjid Salman.

[sumber berita]

Waow… =o

Sekarang bayangkan seandainya ada yang sedang seminar Tugas Akhir pada hari Sabtu tersebut. ;)


6. Sense-of-Crisis Rendah

Maret 2007. Ketika negara sedang diguncang rangkaian berbagai bencana alam dan kecelakaan (e.g. kasus Adam Air dan gempa bumi), para anggota DPR mengajukan satu usul yang sensasional: setiap anggota legislatif sebaiknya dibekali sebuah laptop untuk meningkatkan keahlian mereka di bidang IT.

Ketua DPR Agung Laksono mengatakan (pada saat itu), “Diteruskan saja pengadaannya, karena ini sudah disetujui APBN sejak Oktober 2007 melalui paripurna. Tapi pengawasan yang memang harus diperketat.”

[sumber berita]

Hmm, pada saat Jakarta baru dilanda banjir, pesawat Adam Air hilang di laut, dan masih banyak masyarakat miskin di seluruh negeri?

Rasanya kok…


7. Plin-plan dan Menghindari Tanggung Jawab

Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, mengunjungi Sydney untuk membahas kerjasama kota kembar. Di hotel kota tersebut, ia ditemui oleh aparat Negeri Kanguru menyoal keterlibatannya dalam kasus pembunuhan lima wartawan Australia di Balibo, tahun 1975.

Sutiyoso kemudian pulang kembali ke Indonesia. Pada harian Australia, beliau menyatakan sakit mendadak. Sebaliknya, pada BBC Indonesia, ia menyatakan sangat tersinggung dengan perlakuan tersebut, sehingga mempercepat kepulangannya ke Tanah Air.

[berita di Sydney Morning Herald]

[berita di BBC Indonesia]

Mungkin sudah waktunya kita mengusulkan terjemahan kata “sudden illness” sebagai “kecewa berat”. Oxford Dictionary, anyone?

***

Akankah berbagai atraksi ini terus berlanjut? Kita lihat beritanya… setelah yang satu ini. ;)

23 Tanggapan ke “Potret Raja-raja Kecil Kita”


  1. 1 kunderemp an-Narkaulipsiy 19th Jun 2007 di 3:25 pm

    Mungkin sudah waktunya kita mengusulkan terjemahan kata “sudden illness” sebagai “kecewa berat”. Oxford Dictionary, anyone?

    Ugh…
    tersindir…
    mendadak sakit perut neh.. :p

  2. 2 jejakpena 19th Jun 2007 di 3:57 pm

    potret-potretnya itu… *miris*
    Salah tidak kalau ada yang bilang bahwa kualitas raja-raja itu terkadang mewakili kondisi kualitas rakyat pada umumnya yang memilih mereka atau menyebabkan terpilihnya mereka? ?

  3. 3 Master Li 19th Jun 2007 di 6:12 pm

    1. ‘Sangat’ Melek Teknologi

    Iya, sampai-sampai anggota dewan jualan e-mail, lho.

  4. 4 Rizma 19th Jun 2007 di 6:26 pm

    Mungkin sudah waktunya kita mengusulkan terjemahan kata “sudden illness” sebagai “kecewa berat”. Oxford Dictionary, anyone?

    Priceless,, D

    Hmm,, Ma bingung,,
    pengen banget punya pemimpin yang baik, tapi cara kita buat nemuin orang orang baik buat dijadiin pemimpin gimana?

    Nyalon kaya gitu kan modalnya gede,, (

    Ntar lagi aja deh nambah komennya,, D

  5. 5 mathematicse 19th Jun 2007 di 7:30 pm

    (1). Sepertinya tulisan ini ikutan (mungkin bahasa halusnya terinspirasi) tulisannya Bangaip-top deh…? Cuma beda skala saja.

    (2). Terus masalah IPDN terlupakan ya? Padahal ini juga sempat bikin heboh…

    (3). Mudah-mudahan bagi kita yang membaca dan berkomentar terhadap tulisan ini bisa berkomitmen untuk lebih baik di masa depan bila ditakdirkan menjadi raja-raja kecil di negeri ini, apalagi bila jadi raja besar. (sehingga kejadian-kejadian yang disentil secara eksplisit di tulisan ini tak akan ada lagi). Jadi, kita tak hanya bisa berkaok-kaok, berkoar-koar belaka, tapi ada bukti nyata. Amin.

  6. 6 Fadli 19th Jun 2007 di 7:35 pm

    Wuaaaa, diboongin D
    *mana? kaga ada fotonya satupun ( *

  7. 7 joesatch 19th Jun 2007 di 9:14 pm

    indonesia butuh pembela kebenaran dan keadilan

  8. 8 celotehnyaradityo 19th Jun 2007 di 10:36 pm

    Potret yang menyedihkan, sampai kapan ya Indonesia begini terus…

    Kapan ya lahirnya, pemimpin yang mampu membawa keluar dari keterpurukan?

    Sedih, jadi ingat kejadian sabtu siang tanggal 16 juni kemarin…di jalan raya pancoran, persis di depan SPBU Pancoran yang lama…pas gw lagi dempetan naek metromini 604….(sambil megangin celana takut ama copet…!!!)

    Lihat seorang Laki-laki berusia paruh baya, menjajakan dirinya dengan selembar karton di dadanya dengan tulisan “Saya Butuh pekerjaan”…(maap ga bawa kamera…aseli lupa…maap…) dan didepan laki laki itu persis gw lihat sedan camry DPR lewat….lengkap dengan atribut lambang DPR di plat nomornya….(sial ironis banget….)

    Andai gw punya kerjaan yang bisa gw tawarin…boro boro…

    Kapan ya anggota DPR kita yang “terhormat” itu bisa perduli…kapan…mbuh lah

  9. 9 Evy 19th Jun 2007 di 11:04 pm

    Aduuh mendadak aku sakit perut bacanya… hiks…right or wrong my country…. tapi pahlawan itu kenapa ga dihargai, akhirnya orang ga mau berprestasi… ya Allah Tuhanku….bukakanlah hati yang tertutup…

  10. 10 danalingga 19th Jun 2007 di 11:55 pm

    Yang miris lagi nasib orang “pinter” Indonesia,
    di dalam negeri sendiri kurang dihargai,namun ketika memilih keluar negri (karena lebih dihargai) dibilang tidak nasionalis. duh. (

  11. 11 kunderemp an-Narkaulipsiy 20th Jun 2007 di 12:02 am

    Ternyata tidak hanya saya yang yang sakit perut.. huahahahahaha

  12. 12 fertobhades 20th Jun 2007 di 12:06 am

    sebenarnya apa yang kurang dari pemimpin-pemimpin bangsa ini ? itu pikiranku dari dulu….. sepertinya sikap kenegarawanan

    *jadi miris lihat negeri sendiri*

  13. 13 manusiasuper 20th Jun 2007 di 7:14 am

    Harusnya siapa yang di jadikan sasaran bom bunuh diri ya?

  14. 14 abdulsomad 20th Jun 2007 di 7:27 am

    Assalamualikum wr wb
    kualitas “rakyat” nya juga ndak jauh beda koq.
    pemimpin yg adil untuk rakyat yg adil
    pemimpin yg taat untuk rakyat yg taat
    pemimpin yg dzalim untuk rakyat yg dzalim
    pemimpin yg bodoh buat rakyat yg bodoh

    betulkan kualitas rakyat nya dulu
    kalau kualitas rakyatnya bagus, sekalipun pemimpinnya FIRA’UN, tak kan ada ke-dzaliman

  15. 15 pramur 20th Jun 2007 di 9:27 am

    Numpang nimbrung nih Mas…
    @ danalingga

    Yang miris lagi nasib orang “pinter” Indonesia,
    di dalam negeri sendiri kurang dihargai,namun ketika memilih keluar negri (karena lebih dihargai) dibilang tidak nasionalis. duh.

    Wah, setuju beratz! Saya juga bingung nih, berkarya di kampung sendiri atau pindah ke negara lain? Masalahnya, bangsa ini udah ga nganggep pahlawan (kebanyakannya kita tak kenal) sebagai rakyat biasa yang ga perlu perhatian. Liat aja Pak Habibi…

    @ http://sora9n.wordpress.com/
    Hmm.. Jadi ceritanya Anda juga mendukung opensource ya? Hehehe..
    Mudah2an menteri kominfo yang sekarang lebih merakyat dan manusiawi. Amin

  16. 16 sora9n 20th Jun 2007 di 10:12 am

    @ kunderemp an-Narkaulipsy

    Tersindir? Wah, mohon maaf… tapi seenggaknya belum tersinggung kan? ;)

    :::::

    @ jejakpena

    Hmm, bisa jadi juga begitu, sih… tapi, AFAIK, untuk jabatan menteri itu dipilih langsung oleh presiden, lho. Rakyat Indonesia, sejauh yang saya tahu, cuma mendapat kesempatan memilih di pilpres, pilkada, dan legislatif (CMIIW).

    :::::

    @ Master Li

    Iya, saya juga udah baca kok.

    Haduuh; gimana nih nasibnya TI di negara kita? (

    :::::

    @ Rizma

    Misalnya ente nyari kambing buat idul kurban di Jakarta. Udah nyari2, akhirnya ketemu yang sehat, gemuk, dan bagus. Ternyata, pas mau dibawa pulang, kambingnya berontak dan kabur.

    Kayak gitulah…

    :::::

    @ mathematicse

    (1) ‘Ikutan’? Enggak. Terinspirasi sih iya. ‘Ikut-ikutan’ dan ‘terinspirasi’ itu beda, lho. )

    Lagian, memangnya kenapa dengan ‘template’ model Bang Aip? Bukannya lebih baik kalau kita selalu menyampaikan sumber berita buat rujukan? (o_0)”\

    (2) Ah, iya, saya kelupaan masukin content tentang IPDN. Terima kasih masukannya ya. ^^

    (3) Amin. Mas juga begitu ya… ;)

    :::::

    @ Fadli

    He? Apanya yang diboongin? (o_0)”\

    Ah, kalau soal foto mah cek aja di situs beritanya. Pada nyediain, kok… P

    *pura2Bego*

    :::::

    @ joesatch

    Joe mau daftar? P

    :::::

    @ celotehnyaradityo

    Miris euy… (

    *jadi ingat kisah Buddha yang pergi keluar istana dan jatuh iba*

    *tapi yang ini endingnya lain P *

    :::::

    @ Evy

    Iya bu…

    :::::

    @ danalingga

    Itu dilema para sarjana kita, sih (terutama yang sains dan teknik). Dosen saya pernah cerita soal koleganya yang pascasarjana di luar. Begitu pulang, dia nggak bisa ngapa-ngapain..

    …karena alat2 yang dipakai buat eksperimen nggak tersedia di sini. Akhirnya dia terpaksa memilih antara gagal menerapkan ilmu secara maksimal atau pergi ke luar negeri. (

    Susahnya, yang ngeliat dari luar langsung aja ngasih stempel “nggak nasionalis”. Lha, gimana?

    :::::

    @ kunderemp an-Narkaulipsiy (lagi)

    Berarti ente masih normal… D

    :::::

    @ fertobhades

    Bukannya lebih kekurangan sikap altruisme, Mas?

    Negarawan besar macam Bung Karno sukses di dalam dan luar negeri, tapi… rakyatnya nggak mencapai status “makmur banget”. Itu karena pemerintahannya lebih fokus pada proyek mercusuar seperti GANEFO… (IMO, CMIIW).

    :::::

    @ manusiasuper

    Jangan tanya saya ah. Pertanyaan dilematis itu… P

    :::::

    @ abdulsomad

    Iya sih Wak. Masalahnya membetulkan kualitas rakyat itu kan juga butuh bantuan penguasa juga.

    Gimana mau bikin rakyat jadi cerdas, kalau duit buat mbangun sekolah aja kena sunat terus? (

    :::::

    @ pramur

    Masalahnya, bangsa ini udah ga nganggep pahlawan (kebanyakannya kita tak kenal) sebagai rakyat biasa yang ga perlu perhatian. Liat aja Pak Habibi…

    Nggak usah jauh-jauh… juara olimpiade fisika tahun lalu aja jarang ada yang kenal… Nelson Tansu juga hampir terlupakan, padahal dia asli Indonesia dan udah jadi profesor di US umur 29 tahun (!).

    Hmm.. Jadi ceritanya Anda juga mendukung opensource ya? Hehehe..

    Begitulah… ^^

    Sekarang lagi pake SuSE 10.0, dan berencana migrasi ke ubuntu 7.10… (sayangnya saya belom nemu CD/ISO-nya sampai sekarang ( )

  17. 17 jejakpena 20th Jun 2007 di 11:15 am

    @ sora9n
    Ah, memang benar kok yang milih para menteri itu wewenangnya presiden. Yang saya maksud raja-raja di atas itu secara umum, memilih orang2 yang memimpin dan diberi kepercayaan…

  18. 18 chielicious 20th Jun 2007 di 11:30 am

    duh koq diingetin lagi sieh? kan jadi tambah pengen nampar mereka2 itu -_-

  19. 19 sora9n 20th Jun 2007 di 12:18 pm

    @ jejakpena

    Aah, sou… (o_0)”\

    :::::

    @ chielicious

    *gokil mode on*

    Hidup itu keras… dan kebenaran itu pahit, mbak. P

  20. 20 fadhilla 20th Jun 2007 di 12:33 pm

    inilah realita bangsa kita. ironis memang.
    so…
    Saat nya unuk bangkit perbaiki nasib bangsa.

    so…

    SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  21. 21 fadhilla 20th Jun 2007 di 12:39 pm

    Assalamualaikum…
    yapzzz inilah realita nasib bangsa kita. ironis memang.

    TAPI G’ perlu NANGIS, Coz IBU PERTIWI mau BUKTI!

    Saat nya unuk bangkit perbaiki nasib bangsa.

    so…

    SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    ( eh pentung na kebanyakan )

    SEMANGAT ! (gitcu)

  22. 22 fadhilla 20th Jun 2007 di 12:39 pm

    Assalamualaikum…
    yapzzz inilah realita nasib bangsa kita. ironis memang.

    TAPI G’ perlu NANGISS, Coz IBU PERTIWI mau BUKTII!

    Saat nya untuk bangkit perbaiki nasib bangsa.

    so…

    SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    ( eh pentung na kebanyakan )

    SEMANGAT ! (gitcu)

  23. 23 elpalimbani 20th Jun 2007 di 1:51 pm

    Yang “dipotret” itu bukan raja bung! tapi kacung!
    Btw, postingan yang bagus nih )

    @abdulsomad
    Kecewa baca komennya wak abdul (
    Kalo pemimpinnya (maksudnya kacung yang sok jadi pemimpin-red) tidak bisa diharapkan, ulama-nya barangkali…??

Juni 20, 2007

Example 2

Consider the equation

Note that the only difference between this example and the previous one is that the 9 and 25 have traded places. How does this change the shape of the hyperbola? Is there a change in the orientation from horizontal to vertical? The answer is no. Recall that orientation of a hyperbola is not determined by the sizes of the denominators in the terms of the standard equation of the hyperbola. Rather, orientation is determined by which variable (x or y) is in the “positive” term. Hence, as is the case in the previous example, this hyperbola is also horizontally oriented. The switch between the 9 and 25 simply changes the shape of the branches. The openings of the branches appear to be wider(????). See FIGURE H5.

Note that difference in shape (between this example and the previous) can also be seen in the equations of the asymptotes. Now we see that

and

Thus, the slope of the asymptotes is now , not as in the previous example. As the branches of the hyperbolas are drawn and “squeeze” close to the asymptotes, they will have more room to grow, if you will, than they had in the previous example. This shows us the true effect of switching the places of the 9 and 25 in these two examples.

Juni 20, 2007

Example 1

Consider the equation

Given our comments above, this equation yields a hyperbola. (Note the difference between this equation and that in Example 1 of the section on ellipses.) We see that

and

and the graph of this hyperbola is the following:

Note also, as we finish this example, that the equations of the asymptotes for this hyperbola are

and

Juni 20, 2007

Definition

We begin this section with the definition of a hyperbola. A hyperbola is the set of all points (x, y)

  • Arsip

  • Kategori

  • Blogroll

  • Meta


  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.